aku agak tergelitik dengan komen dari jeng Nila,
kalo ngeliat kondisi kayak gini, kita 100% menyalahkan ibu nya yg tidak punya peri kemanusiaan. tidak berperi keibuan. tapi kita juga suka lupa…kondisi mental seorang ibu,….jarang ada yg mengabaikan, kadang seorang ibu juga butuh diperhatikan dan dibelai….disaat dia down dan stress…siapa tempat Ibu mengadu?
ketika dia sdh di titik stress, melakukan tindakan spt contoh di atas, semua nyalahin dia….
ga ada yg peduli sama kondisi kejiwaan seorang ibu ya….
karena seorang ibu dituntut utk selalu TEGAR dalam kondisi apa pun….
dan pagi ini aku dapat email yang bagus, mungkin beberapa teman wanita disini sudah menerimanya…bahwa seorang wanita memang diciptakan Tuhan untuk selalu tegar, apapun masalh yang dihadapinya*jadi teringat Souad
*
I created woman, she needed to be special, I created her shoulder strong enough to bear the weight og the world and soft enough to be comfortable.
I gave her the strength to give life, the kind that accepts the rejection that often comes from children.
I gave her the strength to allow her to go on when everybody else give up, the kind that takes care of her family, despite illness and fatigue.
I gave her sensitivity to love her children unconditionally, even the have hurt her deeply.
I gave her the strength to endure her husband in his faults and to stay at his side without weakening.
And finally I gave her tears to shed whenever she needs them to be shed.
Pada saat seorang wanita memutuskan unutuk menikah, dia sudah harus siap dengan konsekuensi sebagai berikut:akan direpotkan dengan segala tetek bengek urusan rumah tangga, itu sudah mutlak. Di jawa ada istilah istri itu 3, dapur, kasur, sumur. Sekarang dengan semakin majunya pemikiran manusia2 termasuk para wanita, mereka tidak hanya puas bila hanya 3 hal tersebut, mereka menambahinya dengan nglembur*baca ngantor atawa kerja. Seorang istri plus Ibu yang bekerja, bisa dibayangkan bagaiman dia harus bisa menjadi seorang SUPERWOMAN. Di satu sisi, dia tetap harus menjadi ISTRI yang baik, dan IBU yang baik. Di sisi lain dia juga di tuntut untuk bisa bekerja dengan baik pula. Hal seperti ini biasanya membuat segalanya tampak ruwet. Dan membuat stress yang sangat tinggi bagi IBu2 yang bekerja, belum lagi biasanya ditengah perkawinan muncul konflik2 yang kecil sampai besar*examp:perbedaan cara asuh, anak yang nakal, suami yang genit alias rajin selingkuh dan juga ekonomi yang tidak memadai, yang membuat semakin sang Ibu dan istri semakin terpuruk. Mulailah stress2 bermunculan dan pikiran2 kalut datang…
Mungkin nasehat seorang teman wanita kepadaku layak untuk di coba, saat kita, sebagai wanita dan juga ibu dan juga istri mulai mengalami kemunduran dalam segalanya dan berada dalam titik terendah kita…Bahwa kita tetap harus mempunyai komuni tersendiri, kehidupan kita tidak hanya suami, anak dan kerja…dan kita melupakan teman2 hangout, kita tidak pernah lagi lunch atau ngobrol2 lagi dengn teman2 kita masa lampau sebelum kita menikah…Padahal sebenarnya kita memerlukan mereka. Saat kita berada dalam titik terendah kita, kita bisa sharing dan berbagi pengalaman yang mungkin itu malah akan menyelamatkan perkawinan, dan juga kondisi mental kita sebagai wanita, ibu, dan juga istri. Jadi kita tetap harus mempertahankan komuni tersebut semampu kita karena kita memang membutuhkan kehidupan lain selain lingkup hidup kita, sebagai ibu dan istri.
dan hal tersebut betul2 perlu, dan aku menemukannya dalam kehidupanku di blog, di cetting, dan juga dengan pertemananku dengan teman2ku di dunia nyata…
, jadi kitapun bisa terhindar dari segala macam pikiran picik yang negatif saat semuanya terasa berat bagi kita…Hidup IBU!!!