girasku ing panguripan…

April 12, 2007

Bapak

Filed under: just writing

Membaca postingan mas KW tentang Bapak, mengingatkanku pada Bapakku sendiri. Sekarang Bapak sudah berumur 60an tahun.

Bisa di bilang, figur Bapak dalam kehidupanku, kami (aku dan 2 adekku) sama sekali tak ada. Sejak kecil kami di besarkan oleh Nenek yang tiap bulan dapat kiriman uang dari Ibu yang bekerja di Jakarta. Bapak…entah kemana.

Tapi sebenarnya kalau di ingat2 aku lebih beruntung ketimbang ke2 adekku. Aku masih bisa merasakan kasih sayang Bapak sampai aku berumur 5 tahun. Aku ingat saat Bapak di tugaskan di Madura, setiap pulang sekolah TK aku selalu naik becak langganan yang selalu mengantarkanku ke tempat kantornya Bapak. Dan seingat aku, Bapak akan langsung menggendong aku dengan sayangnya, membelikanku es dongdong*sejenis es cream conthong* dan gulali dan kami kembali naik becak yang memang selalu menunggu dan Bapak akan mengantarkanku pulang ke Ibu yang biasanya sedang sibuk masak ke komplek perumahan tak jauh dari kantornya.

Entah kenapa, hal2 manis itu tiba2 menghilang seiring lahirnya adikku yang ke 3 - jarak mereka ber2 cuman setahun. Bapak benar2 menghilang. Banyak cerita aku dengar, baik versi Nenek yang memang bertolak belakang dengan cerita versi Ibu. Dan kami di cekoki dengan cerita2 itu sampai kami besar. Dan kamipun memendam kebencian pada Bapak terus menerus.

Bapak memang kembali muncul setelah aku dan ke2 adikku sudah besar. Seingat aku Danu, adekku yang terakhir sudah duduk di kelas 2 STM. Aku sudah d Jakarta, sedangkan adekku yang ke2 sudah kerja nyabi kuliah di Malang. Kami heboh. Nenek histeris, marah, menolak. Ibu lebih banyak diam. ke2 adekku pun histeris. tak ada yang bisa menerima Bapak. Pun aku…mungkin.Tapi setidaknya saat itu kami tau, Bapak masih ada dan terlihat sangat tua. Seragam yang dulu seingatku selalu membuatnya terlihat gagah, sekarang terlihat lusuh. Ternyata waktu telah membuat Bapakku tua. Jujur, aku dan kami(aku tau setelah jauh hal itu terjadi dari ke2 adekku) bersyukur, Bapak sehat. Singkat kata Bapakpun kembali memasuki kehidupan kami.

Aku baru benar2 bisa memafkan Bapak saat aku akan menikah. Entah kesadaran darimana, tapi melihat dia dengan ubannya yang memutih  menagis tergugu dalam kemeja batiknya saat pemberkatan nikahku di Gereja membuatku sangat "lepas". Akar kepahitan itu tak lagi menggandoliku. Ternyata aku memang sangat mencintainya, apapun tindakan yang dia lakukan dan apapun yang "mungkin" melatar belakangi hal tersebut. Itu adalah masa lalu, dan tak sepatutnya aku tetap berkutat dengan masa lalu. Bapak tetap Bapakku, seseorang yang mengukirkan darahnya di diriku. Seseorang yang membuatku bisa terlahir dan merasakan segala keindahan dan kepahitan dalam hidupku.

Saat ini Bapak memang tinggal terpisah dari keluargaku, tapi Bapak tetap menjadi bagian dalam keluargaku. Kedatangannya tetap diterima dengan senyuman Ibuku. Bapakku, yang juga Eyang Kakung dari anakku memang akan selalu menjadi bagian dalam kehidupanku.

Dan saat ini aku sedang kangen sama Bapak…

8 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://meilinpruwita.blogsome.com/2007/04/12/bapak/trackback/

  1. hi hi hi… kangen. aku sering mengalami. tak hanya kepada bapak. meskipun kalau udah ketemu ya ngga ngapa-ngapain.

    dan celakanya, mau ga mau harus meninggalkannya untuk entah kapan lagi bisa ketemu.

    dan aku tak bisa membayangkan…. karena perpisahan itu pasti akan datang juga.

    makanya sebisa mungkin aku akan datang padanya sesering mungkin. jangan-jangan ini pertemuanku yang terkahir dengannya :( :( :(

    Comment by kw — April 12, 2007 @ 134am

  2. woowww….pengalaman yang pahit, disaat-saat kita membutuhkan figur seorang bapak, si bapak pergi tanpa pernah melihat kita lagi.
    memang seorang bapak memegang peran yang sangat signifikan dalam kehidupan kita terutama dalam membentuk karakter kita.
    yang aku rasakan betapa indah nya ketika kita sebagai anak bisa menganggap seorang bapak menjadi teman dalam segala hal dan menemani kita sepanjang waktu.
    salut buat kamu mei,yang bisa memaafkan orang yang sudah lama meninggalkan keluarga mu.langkah yang kamu ambil sudah benar, karena bagimana pun masa lalu nya beliau adalah tetap bapak mu dan tidak akan pernah tergantikan.

    Comment by cloudy — April 12, 2007 @ 234am

  3. Waah aku terharu bacanya mbak… adakalanya orang tidak memikirkan dampak negative perpisahan terhadap anak2nya, tapi setelah dewasa memang hanya memaafkan yg bisa memperbaiki keindahan yg pernah hilang… Mudah2an bapak dengar mbak, berdo’a kalu kangen… aku jadi kangen bapak dan ibuku juga neeh :( (

    Comment by Evy — April 12, 2007 @ 454am

  4. hiks terharu jeng Mei….tapi gimana pun juga, bapak adalah orang tua kita, sejelek apa pun…kita tetap diwajibkan hormat pada blio….semoga selalu diberi kebahagiaan, & kesehatan lahir bathin…untuk dapat membahagiakan org2 di sekeliling kita….terutama orang tua….

    Comment by nila — April 12, 2007 @ 094pm

  5. terharu dan salut.. :D

    ya walo sejelek apapun ortu kita, gak bisa diingkari bahwa darah yg mengalir di tubuh tetap berasal dari mereka jua?

    Comment by joni — April 12, 2007 @ 504pm

  6. gak ada memang bekas orangtua atau bekas anak….apapun kesalahan orgtua, jadi pelajaran buat kita ya mei, supaya kita hati2 bertingkahlaku, terutama di mata anak kita…

    Comment by endang — April 13, 2007 @ 534am

  7. salut buatmu mei…bisa memaafkan bapak, apapun kesalahan yg beliau lakukan dulu pasti ada alasan tersendiri, dan smoga kesalahan nya dulu bisa membuka pintu hati beliau untuk menjadi lebih baek, amien

    Comment by kenny — April 13, 2007 @ 304am

  8. *mbrebes mili* people make mistakes. ya kan, mei?

    Comment by venus — April 14, 2007 @ 214am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham