Dan aku menyadarinya betul2 sekarang, bahwa perkawinan adalah kompromi dalam semua hal.
Kompromi untuk masalah keuangan, kompromi untuk kebersihan, kompromi untuk jaga anak, kompromi untuk jumlah anak, kompromi untuk have sex, kompromi untuk masalah keluarga, dan masih banyak kompromi2 yang lain.
Suamiku terlahir dalam aturan jawa yang masih kental, bahwa di keluarganya laki2 adalah power man. Dan wanita adalah warga nomor 2 di rumah. Di rumahnya, Ibu dan anak perempuan tugasnya mencuci pakaian, mencuci piring dan gelas kotor, menyapu rumah dan bersih2 tempat tidur. Lelaki di keluarga dia adalah Raja. Setelah makan, minum taruh aja di tempat cuci piring, dan akan ada anak perempuan yang mencucikannya. Laki2 itu dewa, karena mereka akan bangun siang, tanpa tahu bahwa rumah sedang butuh tenaga untuk menyapu rumah. Mereka adalah hercules, karena bagian angkat2 benda berat seperti kursi, meja, lemari, harus anak laki2 dan anak perempuan bertugas total di dapur. Suamiku tumbuh menjadi orang dengan pikiran patriakal, dan bahwa laki2 hanya bertugas membiayai, tanpa ada bantuan distribusi terhadap urusan"rumah". "rumah" sudah beres dengan anak2 perempuan ataupun Ibunya.
Aku, terlahir dengan dominasi kaum perempuan. Nenekku yang sangat vokal (plus otoriter), dan Ibuku yang sangat kuat. Aku 3 bersaudara dengan adek laki2 paling kecil. Kami, aku dan ayun tumbuh menjadi wanita2 kuat, wanita yang mendominasi. Tak ada aturan yang membedakan laki2 dan perempuan. Danu bisa memasak, biasa mencuci piring, mengepel lantai, dan menyapu rumah. Sama dengan kami, kakak2nya yang perempuan.
Saat aku bertemu suamiku, setahun kami pacaran, aku mulai merubah penampilan fisik suamiku. & aku rajin menyambangi kos2annya dan membereskan segalanya. Kami klop, karena dia juga terbiasa dengan " segala beres". Akupun senang, karena dia tampil dengan segala yang aku senangi, mulai baju, parfum, sepatu dan gaya rambut
.
Awal pernikahan, masalah mulai tampak. Aku yang terbiasa dengan satu2nya laki2 di rumahku dulu(danu) yang bisa segalanya, membuatku menuntutnya banyak. Kami bertengkar hebat, untung seorang teman memberikan solusi bagi kami. dan untung dia juga bukan orang yang "merem" terhadap solusi yang jelas2 menambahkan beban bagi dia yang tidak terbiasa dengan tugas rumah. But it works. Dan itu menyelamatkan perkawinan kami.
Kompromi juga ada dalam makanan. Suamiku "sangat sangat" suka tempe. tempe mendoan, tempe goreng, tempe bumbu, semua jenis masakan tempe dia suka. sedang ak kebalikannya. Aku tidak terlalu suka tempe. Dan itupun membuat kami bertengkar, tapi akhirnya kompromi jugalah yang membuat kami sama2 senang. Setiap aku masak, tempe harus di sertakan. Seperti menuku hari ini, semur ayam campur tempe.
Soal sex-pun demikian. Kompromi untuk segala kebutuhan, tentang siapa yang minta, tentang pakai manuver yang mana, tentang dimana dan juga tentunya tentang "pake sarung atau tidak"
Kompromi bisa menyelamatkan hubungan kami, seperti juga pagi ini. Yang lagi2 dia lupa menaruh handuk basahnya di tempat biasanya dan aku yang berkompromi dengan menaruhnya di tempatnya plus ngomel2. Dan dia yang tertawa mendengar omelanku, mungkin di anggapnya sebagai "kompromi telinga" yang sedap
setiap paginya.