untuk hidup
Ngobrol dengan teman baru di kantor. Usianya memang masih tergolong muda, 25 tahun. Tapi ternyata pegetahuaannya tentang hidup lumanyan hebat.
Sebut saja namanya Bams. Asli kelahiran gunung kidul, Jogja. Lulusan IKIP Jogja dan mengajar sebagai sport teacher di sini. Orangnya berperawakan tinggi dan gagah. Kulit coklat gelap dengan hidung bertengger indah. Wajah khas laki-laki jawa. Lumanyan sering main ke tempatku dan ngobrol. Ngobrol mulai hal remeh temeh sampai hal-hal pribadi dia. Mulai dari percintaan sampai nasehat orangtuanya semasa dia dalam pengkayaan diri.
Ada nasehat orangtuanya yang menggelitikku dan itu adalah kali pertama mendengar hal itu. Tak pernah aku dengar dari Ibuku ataupun Nenekku. Mantan-mantan pacar…apalagi, pun tidak dengan suami.
Bahwa seorang manusia bisa di sebut kaya bila dia bisa memenuhi 3 kriteria berikut; bagus dalam bertutur kata dan bicara (yang artinya kaya isi otaknya-pintar-cakap), bagus dalam bertingkah laku (yang artinya kaya isi hatinya), dan yang terakhir kaya dalam berpenampilan (kaya secara jasmani). Aku mendebat bahwa yang di perlukan hanya 2 hal yang paling atas, sedang kaya secara jasmani itu tak perlu. Jawab dia, "kita hidup di dunia yang masih memandang segala sesuatunya dengan mata, bila kita berpenampilan urakan, rambut gondrong, bercat warna warni, beranting dan bau badan karena tak mandi selama setahun, sekaya apapun hati dan otak kita, kita tak akan pernah di anggap. Tak perlu baju bagus dan mahal, yang penting rapi dan bersih dan orangpun juga senang memandang kita". Jadi tak ada yang tak penting dari ketiga unsur tersebut. Semuanya saling dukung. Hmmm…kalau di pikir-pikir memang betul ya, kita bukan apa-apa tanpa isi otak kita, kita juga bukan apa-apa tanpa hati kita dan kita juga bukan apa-apa tanpa penampilan kita.
Thanks Bams for the nice talking this morning

seng jelas, jangan kaya monyet ya jeng..
:D
Comment by Om Sulis — June 8, 2007 @ 036pm
setuju ama semuanya…*males mikir aja loe ah*
Comment by jeng Endang — June 12, 2007 @ 256am