girasku ing panguripan…

November 14, 2007

hujan basah…

Filed under: just writing

hujan, dan kita terdiam di pinggir ranjang ini… tempias air yang melabrak jendela, menebalkan kabut, membuat kabur pandangan kita. kualihkan mata menatap wajahmu, yang masih menyisakan keringat. alismu yang basah, dan bibirmu yang dahaga, membuatku jadi ingat semuanya. kita baru saja bercinta dengan rakus… seperti hujan, yang murka membasahi bumi.

******

Udan Udan enak’e ngopo????

22 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://meilinpruwita.blogsome.com/2007/11/14/hujan-basah/trackback/

  1. email dari siapa nih….? *penasaran*
    si soulmate mu iku yo? wakakakak… :P

    yo bojokulah..piye seh =))

    Comment by evi — November 14, 2007 @ 5011am

  2. nggoreng tempe mendoan sama pisang, trus ditemani kopi panas….wuaaaah….gak ada yg nemani ngobrol pun bolehlah ngelamun2 aja…

    wah aku nggawe gituan kalau ada temannya mbak, kalau sendirian trus hujan hujan trus nggoreng makanan..walah iseng banget, mending bobok berkelon dengan guling..hehe

    Comment by jeng endang — November 14, 2007 @ 3411am

  3. Setuju sama Jeng Endang. Bedanya, saya ngeteh saja, sebab ndak ngopi.

    Hujan itu indah. Sebab hujan adalah airmata bagi mereka yang merindu. (*halaah gombaalll. huehehehe*)

    Hujan itu indah. Sebab hujan adalah airmata bagi mereka yang merindu—->yang pasti hujan selalu bikin ‘orang yang sedang merindu’ makin mengharu biru…hehe

    Comment by arifkurniawan as bangaiptop — November 14, 2007 @ 5411pm

  4. enak’e kruntelan :D

    iyo aku juga sukak gitu em =)

    Comment by kenny — November 14, 2007 @ 4711pm

  5. Enake ya udan-udanan!

    udan udanan nang ndi mas??

    Comment by budi maryono — November 14, 2007 @ 5511pm

  6. enake yo kosokan(nggosok badan) biar bersih mbak, habis mau tidur kruntelan …hujan, jadi basah deh, gosok badan aja….we kekek

    piye to maksudmu mas???

    Comment by petrus suratno — November 15, 2007 @ 0011am

  7. hujan itu adalah hal yang menakutkan..dan tak ada indahnya

    barang lek berlebihan ki mesti gak apik mas. udan yo ngunu..cilik enak, gede..wahh ora enak tenan..lha musibah je..iyo khan??

    Comment by pitik — November 15, 2007 @ 0311am

  8. lho wis kebanjiran to?

    bintaro bebas banjir coy…

    Comment by kw — November 15, 2007 @ 2911am

  9. *holoh*

    opo???

    Comment by crushdew — November 15, 2007 @ 0811am

  10. paling penak yo ngeyup. :D

    ngeyup nang kasur??

    Comment by mbahatemo — November 15, 2007 @ 3611am

  11. Hujan-hujan enaknya, ya..

    ndak usah hujan. Nggak kuat dingin.*sigh*

    Comment by Paijo — November 16, 2007 @ 1611pm

  12. apapun enak saat ujan kecuali kalo banjir atau bocor

    Comment by Ijang — November 16, 2007 @ 4711pm

  13. aaahh…jadi pengeeeennnn!
    shit!

    Comment by jejakkakiku — November 17, 2007 @ 1411am

  14. 1. minum kopi di teras
    2. tidur
    3. tidur
    4. tiduuuurrrr….

    Comment by venus — November 18, 2007 @ 4311pm

  15. kelon (karo cem-ceman)

    Comment by de — November 18, 2007 @ 5111pm

  16. oral Sex” Raja Jawa

    Saya masih ingat, belasan orang yang ada satu ruangan dengan saya terkejut bukan main sewaktu saya bilang: “Oral seks di Kraton Jawa, dan itu dilakukan oleh sesama laki-laki bangsawan, bahkan diabadikan dalam Babad Tanah Jawi!”

    Ketika itu saya berhadapan dengan dua kelompok orang yang sedang bersitegang. Kelompok pertama adalah anak-anak UKM Seni dan Tradisi di bekas kampus yang sudah saya tinggalkan. Mereka baru saja kena “musibah” ditegur keras dan bahkan dibekukan kepengurusannya karena mementaskan satu lakon yang –bagi jajaran rektorat—dianggap melanggar batas-batas kesopanan. Kelompok satunya adalah anak-anak BEM, baik universitas maupun fakultas, yang mengecam pertunjukan itu dan mereka pula yang “menekan” pihak rektorat untuk “menegur keras” UKM Seni dan Tradisi.

    Peristiwa itu berlangsung pada tengahan 2005 silam. Sudah lama, memang. Tapi saya masih ingat bahwa argumen pihak rektorat untuk membekukan kepengurusan UKM Seni dan Tradisi karena pertunjukkan itu tidak (1) mengindahkan nilai-nilai ketimuran, (2) tidak edukatif dan (2) tidak memedulikan status kampus sebagai “pabrik” penghasil guru yang mesti bermoral adilihung.

    Terus terang saja saya tak sabar karena jargon “nilai-nilai ketimuran” terus direpoduksi selama dua jam terus menerus tanpa ada satu pun dari mereka yang pernah menjelaskan apa yang dimaksud dengan jargon “nilai-nilai ketimuran” itu. Saya yang tadinya hanya mendengarkan–maklum udah mahasiswa tua yang kudu tahu diri—tak tahan untuk tidak angkat bacot.

    Dan saya ceritakanlah soal hisap-menghisap sperma itu.

    Pangeran Puger diangkat menjadi Sultan Mataram dengan gelar Pakubuwana I setelah berhasil mengalahkan Amangkurat III (keponakannya sendiri). Puger sendiri didukung dan memang meminta dukungan dari VOC. Kendati demikian, status Paku Buwana I bermasalah karena ia naik melalui satu proses yang –katakanlah– tidak normal. Pangeran Puger merasa ia belum memeroleh “wahyu keraton”. Pendeknya, kekuasaan Puger tidak legitimate.

    Lantas, bagaimana ia membangun legitimasinya?

    Serat Babad Tanah Jawi memberi legitimasi dengan mengisahkan bahwa Pangeran Puger menghisap sperma Amangkurat II (kakaknya sendiri atau ayah dari Amangkurat III). Dahsyatnya lagi, Puger menghisap sperma ketika abangnya itu sendiri sudah menjadi mayat. (Apa kira-kira istilahnya? Oral sex cum nekrofilia? Hehehe….)

    Adegan itu tercatat dalam Poenika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit saking Nabi Adam doemagi in Taoen 1647; yang dalam edisi cetakan 1941 ada di halaman 260. Adegan yang sama bisa dilihat dalam monograf yang detail dan memukau karya Darsiti Soeratman yang berjudul Kehidupan Dunia Kraton: Surakarta: 1830-1935 di halaman 212.

    Tentu saja saya tahu bahwa babad bukanlah karya ilmiah sejarah. Sudah biasa jika babad-babad itu merupakan hasil kolase fiksi dan fakta. Tapi, pada level membangun legitimasi kekuasaan di hadapan massa rakyat, sudah tak relevan lagi itu fakta atau fiksi. Yang terang, secara sadar fragmen itu memang diciptakan untuk menjelaskan bahwa Puger atau Pakubuwana I sudah menerima “wahyu keraton” dengan menghisap sperma Sultan sebelumnya, Amangkurat II, yang adalah kakak angkatnya sendiri.

    Bisakah Anda bayangkan, seorang Sultan Mataram yang menyandang gelar Panembahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama (Panglima Perang dan Ulama yang Menata Agama) membangun legitimasinya dengan cara menghisap sperma kakaknya sendiri yang sudah jadi mayat?

    [Dalam kasus Ken Arok, Kitab Pararaton membangun legitimasi kekuasaany dengan mengisahkan bahwa Ken Arok sudah membawa wahyu kraton (kadang disebut wahyu keprabon) karena sewaktu bayi Ken Arok ditemukan di hutan, badannya sudah memancarkan cahaya berkilauan. Cahaya dari paha Ken Dedes yang dilihat Ken Arok pun kadang ditafsirkan sebagai wahyu kraton yang mendatangi Ken Arok]

    Ketika itu saya ajukan sepucuk pertanyaan retoris: “Jadi, jika UKM Seni dan Tradisi dianggap melanggar nilai-nilai ketimuran hanya karena mementaskan lakon hasil adaptasi Serat Centhini, nilai ketimuran mana yang dilanggar?”

    Saya masih belum selesai. Saya bilang: “Justru apa yang kita sebut sebagai tradisi kebudayaan Timur itulah yang getol mengeksplorasi pengalaman seksual.”

    Serat Centhini, yang disebut-sebut sebagai kitab dengan kadar ensiklopedis karena kekayaan materinya dalam mengungkap kekayaan pengetahuan Jawa, menyediakan satu bagian khusus yang mengajarkan detail hubungan seksual. Muhidin M Dahlan pernah dengan ciamik mengadaptasi sex education ala Centhini ini dalam novel tebalnya, Kabar Buruk dari Langit.

    Belum cukup? Dari Bugis, ada juga kitab semacam Serat Centhini ini. Nama kitabnya: “Assikalaibineng”. Sebuah disertasi di UI–yang sayangnya sudah saya lupa judul dan penulisnya—pernah mengkaji manuskrip bugis ini. Dalam khasanah Melayu, dikenal kitab yang dinamai “Serat Pegawai”. (Belum lagi kalau menyebut Kamasutra dari India atau The Secret Garden dari jazirah Arab)

    Dari dunia pesantren, sejumlah kita kuning juga menguraikan hal yang sama, di antaranya Kitabun-nikah, Uqudullijain dan Ushfuriyah. Yang juga perlu disebut barangkali adalah Qurrat al-Uyun yang detail mengurai tipe-tipe perempuan berdasar perspektif seksual dan juga membahas tahapan-tahapan dalam hubungan suami istri serta sejumlah persoalan seks lainnya.

    [Soffa Ihsan pernah menulis buku–In the Name of Sex: Santri, Dunia Kelamin dan Kitab Kuning– yang cukup detail memerikan bagaimana prilaku seksual di pesantren, baik antara santri dengan santri maupun santri dengan pengasuhnya dan ini berlangsung sesama jenis. Ada satu istilah yang bisa menggambarkan hubungan macam itu: “mairil”. Remuk redam gini saya pernah mondok di pesantren, jadi tahu dikit-dikitlah “kenakalan” santri-santri yang saban hari hanya melihat mahluk yang sejenis dengannya]

    Saya tidak bilang bahwa karya-karya itu mengajarkan pornografi. Sewaktu saya menyebutkan karya-karya itu, saya cuma ingin menegaskan bahwa soal seksualitas adalah medan wacana yang terbuka untuk dibicarakan, diapresiasi dan dipelajari dengan terbuka, tanpa pandang kelas sosial, apakah itu bangsawan atau jelata dan sahaya.

    UKM Seni dan Tradisi dan pementasannya tersebut, saya bilang ketika itu, justru meneruskan kembali tradisi kebudayaan Timur yang memposisikan seks sebagai satu diskursus. Bedanya, kali ini menggunakan medium seni pertunjukkan. Dan sejauh yang saya lihat, pertunjukkan itu memang jauh dari pornografi.

    Salah satu peserta diskusi sempat menyela dengan mengatakan bahwa perilaku “amoral” itu kan dilakukan oleh para bangsawan dan bukan rakyat kebanyakan.

    Saya jawab: Pertama, dalam kesadaran orang Jawa di masa silam, kraton justru adalah sumur di mana standar moralitas Jawa ditimba. Nilai-nilai kebudayaan Jawa banyak lahir dari sana. Jadi, agak sukar untuk menarik segregasi yang hitam putih antara kraton dan jelata-sahaya. Jangan heran jika bagi orang Jawa pada masa itu, menjadi abdi dalem adalah jalan hidup terbaik untuk mengabdi pada pusat moral dan duniawi sekaligus; perilaku yang hingga kini masih bisa kita saksikan di Kraton-kraton Jawa.

    Kedua, rakyat jelata juga terlibat dalam konfigurasi tata nilai macam itu, termasuk dalam soal seksualitas. Saya contohkan saja satu kasus yang pernah dieksplorasi dengan cukup detail oleh Darsiti Soeratman dalam monograf yang saya sudah saya sebutkan di awal tadi.

    Di Kraton Surakarta, bukan hal aneh jika ada abdi dalem yang mengirimkan anak gadisnya (minimal berusia 12 tahun) ke Kraton. Resminya mereka diminta untuk belajar tari Bedhaya. Mereka kerap disebut para Bedhaya. Di luar yang resmi-resmian itu, para orang tua yang mengirimkan anak gadisnya ke Kraton itu biasanya berharap agar anaknya “dihamili oleh raja” sehingga bisa dinikahi sebagai istri selir (garwa selir atau priyantun dalem). Jika itu terjadi, kekayaan dan status keluarga si gadis bisa terangkat (macam itu bisa masuk delik perdagangan perempuan gak ya?)

    Dan harapan itu kerap terkabul. Bukan sekali dua para bedhaya itu kedapatan hamil. Jika beruntung, raja bisa menikahinya. Jika apes, raja cukup “memberikan” bedhaya yang hamil itu pada abdi dalem yang lain. Itulah sebabnya, pelajaran tari bagi para bedhaya itu disindir sebagai “magang selir”: magang bagi siapa-siapa yang ngiler jadi selir.

    Bukan sekali dua raja menyukai lebih dari satu bedhaya. Siapa yang disukai raja bisa dengan mudah memeroleh hadiah yang mahal-mahal. Jangan heran jika sesama bedhaya sendiri sering bersaing satu sama lain.

    Biasanya, raja memanggil salah satu bedhaya ke ruangan kerjanya di bangsal Madusuka. Jika sudah begitu, semua penghuni keputren sudah tahu sama tahu. Lucunya, karena persaingan itu tadi, kerap terjadi ketika raja sedang menunggu bedhaya yang dipanggilnya, bedhaya yang lain kadang nekat dengan lebih duluan “menyusup” ke ruangan raja.

    Peristiwa macam itu menjadi praktik yang lazim. Banyak bedhaya yang ketiban apes tak kunjung hamil sehingga peluang untuk diangkat sebagai selir pun makin tipis. Jika sudah begitu, siap-siap saja orang tua si gadis menarik pulang anaknya untuk dikawinkan dengan orang di luar kraton.

    Jika sudah begitu, mestikah diherankan jika raja-raja Jawa bisa memiliki jumlah anak puluhan? Saya punya daftar: Pakubuwana III beranak 46 orang, Pakubuwana IV beranak 56 orang, Pakubuwana V beranak 45 orang, Pakubuwana IX beranak 57 orang. (Padahal zaman itu belum ada viagra! Hehehehe…..)

    Salah satu buku yang banyak mengisahkan kehidupan seks di kraton Jawa dan masih mudah diperoleh adalah buku Otto Soekatno, Seks Para Pangeran. Di buku itu ada salah satu bab yang mengisahkan bagaimana Amangkurat I membantai mertuanya sendiri, Pangeran Pekik, karena Pekik melindungi anak Amangkurat I sendiri (berarti cucu Pekik sendiri) yang kedapatan berselingkuh dengan selir ayahnya. Amangkurat I ini memang terkenal tiran. Pernah membunuh ribuan ulama dan penguasa lokal. Barangkali, Amangkurat I ini pantas dijuluki Kaisar Nero dari Jawa.

    Dan yang beginian bukan monopoli kraton yang didukung dengan diam-diam oleh kawula raja yang mengirim anak gadisnya untuk jadi penari bedhaya saja, tetapi juga memang menjadi cermin dari apa yang terjadi di masyarakat.

    Dalam tradisi reog di Ponorogo, misalnya. Lazim terjadi seorang warok “memelihara” seorang anak laki-laki yang rupawan. Hubungan macam ini disebut “gemblakan”. Ada kepercayaan bahwa seorang warok bisa makin berlipat kekuatan magisnya jika bisa “memelihara”, “mencecap” dan “menyerap” energi gemblaknya yang masih ingusan dan jelas-jelas bujangan thing thing.

    Jadi, apa yang dimaksud dengan nilai-nilai luhur kebudayaan Timur? Jika memang ada, yang mananya? Tentu saja ada jawaban atas pertanyaan itu. Yang saya ingat, para peserta diskusi yang jumlahnya belasan orang itu kesulitan menjawab.

    Dengan mengerahkan kemampuan “speak-speak guk-guk” yang rada-rada hiperbolis, saya berharap diskusi itu bisa membuat mereka yang hadir untuk lebih berhati-hati dan syukur-syukur mencoba merumuskan dengan lebih mantap apa disebut sebagai “nilai-nilai luhur kebudayaan Timur”. Ini mungkin lebih baik ketimbang terus-menerus mereproduksi kata-kata yang sudah menjadi jargon.

    Seringkali apa yang sebelumnya dibayangkan sebagai konsep yang sudah jelas dari sononya ternyata masih berlubang di sana-sini.
    (di kopipaste dari http://pejalanjauh.blogspot.com)

    Comment by kw — November 19, 2007 @ 1011am

  17. musim ujan musim kawin. hehehe…. tapi beneran loh, di istana jawa pada abad 19, selir-selir banyak kedapatan hamil waktu musim hujan.

    salam kenal.

    Comment by zen — November 19, 2007 @ 3711am

  18. enake nonton film/baca novel nang sofa gedhe,empukk, lengkap dengan bantal dan guling di sisi2nya, di depan home theater trus dimeja kecil samping sofa ada cemilan dan milo hangat…hhhmmmmm nyummmmmmmyyyyyyy

    Comment by pinkina — November 20, 2007 @ 3611am

  19. hayyah! marahi ngiri… :D

    Comment by bangsari — November 20, 2007 @ 3011am

  20. BT BT, Bubuk Tumpuk

    Comment by kowok — November 22, 2007 @ 0211am

  21. wah, di sini teduh ya.

    Comment by panda — November 22, 2007 @ 2011am

  22. podho-podho enak kok

    Comment by dimas — February 20, 2008 @ 302am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham