girasku ing panguripan…

February 14, 2008

cinta tanpa syarat

Filed under: renungan

This is Val’s Day… saya akan berbagi cerita dari imel yang saya dapat pagi ini. Saya sampe menitikkan airmata saat membacanya. Karena kagum akan cinta yang begitu besar, cinta tanpa syarat, cinta yang tulus-yang saya belum punya. Semoga kisah ini menjadi inspirasi, sebuah perenungan. Membaca kisah ini… saya jadi teringat sebuah kata-kata bijak: 

Dicintai dan Mencintai
Dibutuhkan Keberanian untuk melompat
dan mempertaruhkan segalanya
demi sebuah nilai hidup yang luhur

Happy Val’s Day
***************
MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT 

Based on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinn. kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka. "Anak2ku………Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno…dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swastauntuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatno   kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.  Disitulah pak Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..sekarang dia sakit dan berkorban demi cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…"


****************

23 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://meilinpruwita.blogsome.com/2008/02/14/cinta-tanpa-sarat/trackback/

  1. Ya Allah….mulia sekali pak Suyatno itu.
    *sampe mrebes mili aku mocone*

    jadi tanya, besok apakah suami-suami kita bisa seperti pak suyatno itu?

    Comment by evi — February 14, 2008 @ 012am

  2. bener2 cinta tanpa syarat

    Comment by aprikot — February 14, 2008 @ 492am

  3. postingan valentine….aku gak ngrayain :D

    Comment by venus — February 14, 2008 @ 052am

  4. hari ini, kamu tidak menyayangiku…..meninggalkanku begitu saja daari layar YM……tidak setiaaaaaaa !!!!!!!

    Comment by jeng endang — February 14, 2008 @ 582am

  5. Speechless

    Comment by Qky — February 14, 2008 @ 492am

  6. i love you pak suyatno

    Comment by kenny — February 14, 2008 @ 132am

  7. waw,…

    Comment by Anang — February 14, 2008 @ 592am

  8. Wadooh…
    Selama ini sayah malah menyia-nyiakeun istri sayah….

    ***sedih sebentar….***

    Comment by Mbelgedez — February 15, 2008 @ 402am

  9. melu mrebes mili….hik
    Met Valentin, jadikan setiap hari “Valentin day”, selalu penuh kasih dan sayang.

    Comment by petrus suratno — February 15, 2008 @ 122am

  10. mirip kisah nyata yg pernah saya amati di lingkungan saya, hingga ditinggal meninggal istrinya krn sakit, sang suami tetap setia tidak mau menikah lagi..

    Comment by dani iswara — February 15, 2008 @ 322pm

  11. seperti kata agmon alias si agnes monica, “cinta ini…kadang kadang tak ada logika”
    apakabar mbak Mei…semoga sehat dan bahagia…

    Comment by nothing — February 15, 2008 @ 022pm

  12. kalau dalam kegiatan belajar, “hasrat mencintai” itu seperti “mencoba memahami pelajaran”, sementara “hasrat dicintai” itu seperti “mencoba menghapal pelajaran”.

    Comment by zen — February 16, 2008 @ 582am

  13. komitmen, aku ko ga bisa ya…

    Comment by kw — February 16, 2008 @ 032pm

  14. Yang ginian sih langka abis di dunia nyata….
    but, saluuuuutlah!

    Comment by Ndoro Seten — February 18, 2008 @ 322am

  15. wes tuwek …

    kok ngomong cinta …

    :)

    Comment by bahtiar — February 18, 2008 @ 462am

  16. saya sedang merenungkan… dah kelewat kali yak :d

    Comment by danu — February 18, 2008 @ 382pm

  17. Berbahagiayalah para istri yang punya suami seperti itu.
    mampukah menjadi seperti beliau ya

    Comment by cokro — February 19, 2008 @ 152am

  18. Kisah ini mengingatkan aku pada puisi yang kutulis berbelas tahun lalu: Di selang infus itu, mengalir merah jambu darahku….

    Comment by budi maryono — February 22, 2008 @ 292am

  19. Kisah ini mengingatkan aku pada puisi yang kutulis berbelas tahun lalu: Di selang infus itu, mengalir merah jambu darahku….

    Comment by budi maryono — February 22, 2008 @ 292am

  20. mei…pa kabarnya?? kog gak apdet2, apa mo hiatus jg??

    Comment by kenny — February 22, 2008 @ 212am

  21. hello mei…..wah tulisan bagus, yg mengingatkanku pada seorang sahabat ku waktu kecil….

    Comment by wieda — February 23, 2008 @ 542pm

  22. sederhana namun berharga..

    Comment by crushdew — February 25, 2008 @ 512am

  23. Sangat luar biasa!!!!
    Pak Suyatno adalah contoh figur yang sungguh memahami bahwa kehidupan pernikahan hanya dapat dipisahkan oleh kematian, selain itu tidak. Saya salut pada cinta tanpa syarat yang ditunjukkan oleh pak Suyatno. Mudah-mudahan sayapun bisa mengikuti jejaknya.

    aminnn….

    Comment by heri — September 5, 2008 @ 369am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham