cinta tanpa syarat
This is Val’s Day… saya akan berbagi cerita dari imel yang saya dapat pagi ini. Saya sampe menitikkan airmata saat membacanya. Karena kagum akan cinta yang begitu besar, cinta tanpa syarat, cinta yang tulus-yang saya belum punya. Semoga kisah ini menjadi inspirasi, sebuah perenungan. Membaca kisah ini… saya jadi teringat sebuah kata-kata bijak:
Dicintai dan Mencintai
Dibutuhkan Keberanian untuk melompat
dan mempertaruhkan segalanya
demi sebuah nilai hidup yang luhur
Happy Val’s Day
***************
MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT
tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinn. kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".
Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka. "Anak2ku………Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno…dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swastauntuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah pak Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..sekarang dia sakit dan berkorban demi cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…"
****************

Ya Allah….mulia sekali pak Suyatno itu.
*sampe mrebes mili aku mocone*
jadi tanya, besok apakah suami-suami kita bisa seperti pak suyatno itu?
Comment by evi — February 14, 2008 @ 012am
bener2 cinta tanpa syarat
Comment by aprikot — February 14, 2008 @ 492am
postingan valentine….aku gak ngrayain
Comment by venus — February 14, 2008 @ 052am
hari ini, kamu tidak menyayangiku…..meninggalkanku begitu saja daari layar YM……tidak setiaaaaaaa !!!!!!!
Comment by jeng endang — February 14, 2008 @ 582am
Speechless
Comment by Qky — February 14, 2008 @ 492am
i love you pak suyatno
Comment by kenny — February 14, 2008 @ 132am
waw,…
Comment by Anang — February 14, 2008 @ 592am
Wadooh…
Selama ini sayah malah menyia-nyiakeun istri sayah….
***sedih sebentar….***
Comment by Mbelgedez — February 15, 2008 @ 402am
melu mrebes mili….hik
Met Valentin, jadikan setiap hari “Valentin day”, selalu penuh kasih dan sayang.
Comment by petrus suratno — February 15, 2008 @ 122am
mirip kisah nyata yg pernah saya amati di lingkungan saya, hingga ditinggal meninggal istrinya krn sakit, sang suami tetap setia tidak mau menikah lagi..
Comment by dani iswara — February 15, 2008 @ 322pm
seperti kata agmon alias si agnes monica, “cinta ini…kadang kadang tak ada logika”
apakabar mbak Mei…semoga sehat dan bahagia…
Comment by nothing — February 15, 2008 @ 022pm
kalau dalam kegiatan belajar, “hasrat mencintai” itu seperti “mencoba memahami pelajaran”, sementara “hasrat dicintai” itu seperti “mencoba menghapal pelajaran”.
Comment by zen — February 16, 2008 @ 582am
komitmen, aku ko ga bisa ya…
Comment by kw — February 16, 2008 @ 032pm
Yang ginian sih langka abis di dunia nyata….
but, saluuuuutlah!
Comment by Ndoro Seten — February 18, 2008 @ 322am
wes tuwek …
kok ngomong cinta …
:)
Comment by bahtiar — February 18, 2008 @ 462am
saya sedang merenungkan… dah kelewat kali yak :d
Comment by danu — February 18, 2008 @ 382pm
Berbahagiayalah para istri yang punya suami seperti itu.
mampukah menjadi seperti beliau ya
Comment by cokro — February 19, 2008 @ 152am
Kisah ini mengingatkan aku pada puisi yang kutulis berbelas tahun lalu: Di selang infus itu, mengalir merah jambu darahku….
Comment by budi maryono — February 22, 2008 @ 292am
Kisah ini mengingatkan aku pada puisi yang kutulis berbelas tahun lalu: Di selang infus itu, mengalir merah jambu darahku….
Comment by budi maryono — February 22, 2008 @ 292am
mei…pa kabarnya?? kog gak apdet2, apa mo hiatus jg??
Comment by kenny — February 22, 2008 @ 212am
hello mei…..wah tulisan bagus, yg mengingatkanku pada seorang sahabat ku waktu kecil….
Comment by wieda — February 23, 2008 @ 542pm
sederhana namun berharga..
Comment by crushdew — February 25, 2008 @ 512am
Sangat luar biasa!!!!
Pak Suyatno adalah contoh figur yang sungguh memahami bahwa kehidupan pernikahan hanya dapat dipisahkan oleh kematian, selain itu tidak. Saya salut pada cinta tanpa syarat yang ditunjukkan oleh pak Suyatno. Mudah-mudahan sayapun bisa mengikuti jejaknya.
Comment by heri — September 5, 2008 @ 369am