RSCM
"wong mlarat lek loro ki susah" - orang miskin itu kalau sakit susah -
Nelongso saya lihat antrian yang ada di RSCM saat saya mengantarkan adik saya untuk periksa ke dokter internis. Sengaja saya membawanya ke RSCM dengan asumsi karena kalau sakit adik saya ndak di cover sama kantornya, maklum adek saya bekerja sebagai kuli kasar-pegawai harian. Kata adek saya penggantian biaya sakit atas dasar kerelaan sang bos saja(euh…yang namanya pegawai khok hanya direguk manisnya saja ya??)
Dia menderita nyeri dibagian pinggang kanan yang hilang timbul. Saat terjadi keluhan pertama, saya membawanya ke rumahsakit Sari Asih Cileduk. Di tes urin dan darah, tak ditemukan adanya masalah pada ginjal. Sang Internis disana tak yakin. Dia diberi painkiller selama seminggu dan bila nyeri timbul lagi akan diadakan pemeriksaan selanjutnya (x-ray vertebrae).
Pemeriksaan kedua saya bawa dia ke RSCM - saya sengaja bolos untuk bisa mengantarnya. Kenapa saya bawa dia ke RSCM karena saya pikir saya bisa berhemat harga konsultasi dokter. Seperti yang anda anda ketahui biaya sekali konsultasi untuk dokter spesialis berkisar antara 150-200 ribu di RS Swasta. Di RSCM untuk konsultasi hanya perlu merogoh kocek Rp 40.000.
Saat mulai memasuki RSCM, saya takjub pada toiletnya(hahaha). Sumpah..suster ngesot nggak perlu nunggu malam hari untuk muncul, karena siang haripun toilet yang berada didekat poli kebidanan itu sudah menakutkan =(. Lebih takjub lagi saat saya dan adek saya di pingpong kesana kemari saat mau mendaftar jadi pasen. Perawat perawat yang judes(ehem..bukan termasuk saya), dan saat kami sdh mendaftar dan menunggu giliran - kami disuguhi pemandangan berbagai orang hilir mudik masuk ruangan pemeriksaan. Mulai dari cleaner (ternyata kata orang disebelah saya-kalau mau mbayar cleaner sekitar 5000 sampai 10.000 maka kita bisa memajukan nomor antrian-holohhhhhhhhhh). Adek saya mendapatkan nomor seratus sekian. Dan dia baru mendapatkan giliran periksa sekitar jam 2sekian -fyi kami datang ke RSCM sekitar jam 7 pagi.
saya hanya membayangkan dan merasa trenyuh saat melihat perbedaan cara pelayanan antara pasien gakin (warga miskin) dan swadana(atas biaya sendiri). Pasien gakin harus punya KESABARAN lebih. Karena tidak membayar mereka harus rela antri yang (biasanya)akan di nomorduakan untuk mendapat pelayanan kesehatan. Nelongsone saya saat melihat seorang nenek tua berjalan sendirian dan tidak mendapatkan tempat duduk serta harus di judesi sama staff yang ada disana-disuruh ngambil file nya sendiri. Walah Gusti..wong jalan saja sudah susah khok malah disuruh suruh - nyuruhnya judes lagi (cuk)
Apakah tak ada kebijakan yang bisa membuat warga miskin mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih bagus ya??? Bukankah warga miskin, anak terlantar adalah kewajiban negara untuk mengurusinya?? Ok kalaupun sudah diurus mbok ya dilakukan dengan baik dan bukan dengan sewenang wenang. Wong mlarat juga warga Indonesia rek…Miris kalau lihat para wakil rakyat sibuk berlomba lomba korupsi, punya gendaan sana sini, minta naik gaji, punya mobil dinas Alphard ( mboh nulisnya bener apa nggak itu!!) dibnding dengan sejumlah pelayanan yang yang asal asalan.
*** masih nyesek ingat mbah mbah yang sepuh dan di bentak bentak sama staff yang judes hanya karena dia memakai kartu gakin ***



