menjadi sabar

Minggu sore, saat Pak Pendeta mendoakan orang orang, suamiku berbisik ditelingaku. Katanya aku seharusnya juga didoakan agar aku menjadi lebih sabar. Saat itu aku hanya tertawa geli. Tapi sesaat setelah kebaktian usai, dan saat perjalanan pulang, omongan suamiku mulai menggangguku.
Aku memang manusia dengan typikal emosi yang meledak ledak. Ibarat kompor, gampang panas, tapi juga gampang dingin. Saat muda dulu, aku biasanya hanya menangis dan merokok saat banyak masalah. Mau marah dan teriak teriak tak ada bahan. Secara saat itu hal hal yang membuatku marah selalu berputar antara hubungan percintaan atau hubungan orangtua-anak. Tapi saat menikah, dan saat mulai merasa nyaman, aku sering sekali menumpahkan kemarahanku pada suamiku.
Tahun tahun pertama perkawinan kami rasanya kepalaku berputar bagai gasing. Ada saja hal hal yang mengganggu. Mulai urusan pembantu, pembagian tugas dalam mengurus anak, keuangan dan sebagainya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai bisa meredam emosi dan aku melihat dan merasakan bagaimana suamiku berusaha membuat semuanya menjadi lancar dan kami mulai menemukan kesejajaran dalam banyak hal dan pemikiran. Perkawinan menjadi sesuatu yang nyaman dan menyenangkan.
Untuk bisa bersabar aku melakukan hal hal preventif saat emosiku mulai merambat naik ke kepala. Contohnya saat masalah bermula dari sikecil, aku meminta salah satu dari orang dirumah untuk membawa genduk menjauh dulu dariku, walaupun itu membuat Ningrum memberontak. Tapi aku butuh sesaat waktu untuk bisa menarik nafas dan meredam emosi yang meletup. Saat semuanya mulai terasa tenang, akupun mulai mendekati anakku yang meronta dan memeluknya. HANYA MEMELUK. Dan saat dia mulai tenang, badannya tak lagi gemetar karena marah aku mulai mengajaknya bicara. Dan semuanya kembali seperti semula. Ningrum senang, akupun senang.
Tapi tak seperti itu pagi ini. Aku gagal menerapkan hal hal yang biasanya aku kerjakan. saat aku diburu waktu untuk berangkat bekerja, Ningrum yang nangis minta agar bisa mengantar sampai depan komplek, Iyuk yang masak sopnya kurang air dan kurang garam, nasinya belum matang, ditambah suami yang belum juga berhasil memhubungi mobil jemputan, membuatku kalap. Aku histeris. Dan aku meneriaki mereka semua. Iyuk, suamiku dan Ningrum. Ya Allah, aku berangkat bekerja dengan suasana hati yang sangat tak nyaman. Aku harus meminta maaf pada mereka sepulang kerja nanti…

lebih sabar Jeng…nyebut nyebut!! jgn smua di marahi gitu.
tapi kadang aku jg begitu, apalagi pulang kerja capek, si Nasywa rewel minta macem2 ugh! langsung teriak “Wawa!! maunya apa sih? Bunda udah capek tau!” pokoknya ngeri…. tapi suami selalu bilang, “udahlah Bun….waktumu ama Nasywa sehari kan cuma 1 jam aja, pagi2 dia blm bangun kamu udh berangkat, pulang udah maghrib, jam 8 kamu dah mau tidur, kasianlah…” tak pikir2 iya juga seh….
makanya sabtu-minggu kalo pergi ninggalin Nasywa gimana gitu….
jadi kapan awakmu arep dolan…? anggrek mu wes nunggu loh!
Comment by evi — October 29, 2008 @ 2610am
sorry Jeng…td aku maksi di luar, ono seng traktir 2 hari ini, smoga besok ada ajakan lg hehehe….
*kurang.ajar*
Comment by evi — October 29, 2008 @ 0210am
wahhh sama tipikalnya denganku pemarah juga
ikss….!! apa resepnya bu tuk menghilangkannya. apa dah hilang pemarahnya
syukurlah ku blom punya istri sehingga blon ada tempat melampiaskan
Comment by MedanBlogger — October 29, 2008 @ 3410pm
KAYAKNYA KITA SEMUA BUTUH ANTI-STRESS, HINGGA KELUARGA TAK KENA GETAHNYA…
Comment by Qky — October 30, 2008 @ 3110am
asal gak sering2 aja mei
Comment by kenny — October 30, 2008 @ 2410am