girasku ing panguripan…

November 12, 2008

smile

Filed under: uneg-uneg, renungan

It’s nice to be nice…

Kata kata itu aku dengar dari mulut salah seorang anak di sini. Anak blasteran Inggris-Bangka itu aku juluki the smiling boy. Dia grade 9. Di usianya yang mulai memasuki masa pubertas itu dia pernah bercerita, bahwa dia benci menjadi remaja karena mengutip kata katanya - I hate myself to be a silly boy whose always show off and trying to be nice everytime I saw her -

Biasanya bila dia bercerita dan gelisah seperti itu, aku hanya akan menjadi pendengar yang baik. Peralihan dari masa kanak kanak ke remaja memang merupakan proses yang unik. Perubahan bentuk tubuh, perasaan ketertarikan pada lawan jenis, teman teman yang membawa pengaruh baik positif maupun negatif dan bagaimana cara mereka untuk bisa mengaktualisasikan diri menjadi tantangan yang menakutkan bagi para remaja muda ini.

Hmm….dia juga bertanya tentang mimpi basah ^^;

Ketertarikan pada lawan jenis, mimpi basah dan perubahan bentuk tubuh merupakan hal yang paling menarik bagi dia. SEbenarnya dia sudah mendapatkan pelajaran sex education saat dia masih di grade 7, tapi rasa malunya yang besar membuatnya tak berani bertanya pada gurunya saat itu. Biasanya dia dan teman temannya memang lebih banyak bertanya padaku. Dan tentu saja, aku menjawab sesuai dengan kapabilitasku sebagai staff kesehatan disini.

Saat itu, selain bertanya tentang hal hal itu diapun curhat tentang rasa sebalnya pada seseorang. Tapi tak pernah selintaspun aku melihat perubahan pada raut mukanya. Selalu tersenyum…

Saat dia keluar dari ruanganku, aku berkata padanya - don’t push yourself too hard for smilling, if you don’t want then don’t do that. Dan anda pasti bisa menebak jawaban yang saya dapat…yupz, betul!!! dia bilang -Because it’s nice to be nice nurse- sambil tersenyum…

Aku hanya berharap agar aku bisa mencontoh sedikit saja dari kebebasannya dan kemudahannya untuk tersenyum, agar hidup ini terasa lebih indah ^^

August 14, 2008

kids

Filed under: uneg-uneg, renungan

Saya dapat kiriman tulisan yang buaguusss banget, saya mau sharing sama sampeansampean terutama para Ibu Ibu muda yang punya anak masih "kemusu"(tapi maaf ndak di terjemahkan, saya takut salah-jadi saya kutib seperti aslinya)

***

Parent hitting their child it’s unforgivable. Discipline, loving smack(pukulan tanda sayang??), those are just convenient excuses. The child will behave after this and understand how their parents feel - there’s no such thing. Even if that’s how you see it, that’s only because the child is SCARED.

Kids are not stupid!!! Because they are scared of their parent, they just act like they are listening. It doesn’t mean that they agree with that parent say.

If you really love your child, you just have to talk to them and if they still don’t get it, you just leave talk to them again. As for many times, until they are understand.

Such infinitive patience is what true love is about…

***

Punya anak = Kesabaran seluas samudra.

Semoga saya bisa…..

June 3, 2008

1 point

Filed under: renungan

" someone who can lie to themself is lonely and in pain "

February 14, 2008

cinta tanpa syarat

Filed under: renungan

This is Val’s Day… saya akan berbagi cerita dari imel yang saya dapat pagi ini. Saya sampe menitikkan airmata saat membacanya. Karena kagum akan cinta yang begitu besar, cinta tanpa syarat, cinta yang tulus-yang saya belum punya. Semoga kisah ini menjadi inspirasi, sebuah perenungan. Membaca kisah ini… saya jadi teringat sebuah kata-kata bijak: 

Dicintai dan Mencintai
Dibutuhkan Keberanian untuk melompat
dan mempertaruhkan segalanya
demi sebuah nilai hidup yang luhur

Happy Val’s Day
***************
MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT 

Based on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinn. kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka. "Anak2ku………Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno…dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swastauntuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatno   kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.  Disitulah pak Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..sekarang dia sakit dan berkorban demi cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…"


****************






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham