I need motivation
Saat anda mendapatkan teguran dari Bos atas kesalahan yang memang anda lakukan tapi itu bukan berakibat fatal atas kondisi darurat yang ada, apa yang akan anda lakukan???
Minta maaf. Jelas!!!
Tapi sesaat setelah teguran tersebut, biasanya sebagai bawahan saya langsung down. Tidak percaya diri, dan merasa tidak berguna.
Tapi hal tersebut diatas tidak terjadi pada saya saat kemarin hal tersebut terjadi lagi untuk yang kedua kali pada saya. Saya merasa biasa saja. Saya memang minta maaf - karena saya sadar saya tidak melakukan prosedur yang benar. Tapi perasaan down, perasaan bersalah yang sangat, mengutuki diri sendiri itu tidak ada lagi. Bahkan reminder untuk "jangan mengulangi lagi kesalahan yang sama di otak saya"pun tidak berbunyi. Jujur saya heran terhadap diri saya sendiri!!!
saya berpikir dan berpikir. Kenapa hal tersebut bisa terjadi. Istilahnya otak saya maupun sikap saya terhadap hal tersebut Lempeng Dot Com. Tidak ambil perduli. Apa mungkin hal tersebut karena saya sudah mulai kehilangan motivasi kerja?? Apa karena saya merasa bahwa status kepegawaian saya yang sudah tetap ini bisa membuat saya santai (kalaupun dipecat seenggaknya mereka harus menyediakan uang jasa untuk saya setelah seperkian tahun saya menhamba pada perusahaan ini)??? Atau karena saya sudah terlalu lama bekerja di perusahaan ini dan sudah mulai merasa bahwa "comfort zone" saya memang disini?? Apa mungkin saya harus mulai mencari motivasi baru agar saya tetap bisa "stay allert" terhadap kondisi kondisi darurat yang mungkin terjadi???
Jujur saja, saya bukan typikal orang yang suka dengan tantangan. Saya menyukai lingkungan kerja yang nyaman dan aman. Saya bukan orang yang suka berenang melawan arus. Saya bukan kutu loncat seperti teman teman saya. Mereka bilang dengan menjadi kutu loncat mereka mendapatkan lebih. Memang. Tapi saya bukan mereka. Saya nrimo dengan kondisi yang saya dapat saat ini. Tapi dengan kasus yang saya dapatkan kemarin dan menyadari bagaimana saya bersikap terhadap kondisi tersebut membuat saya berpikir apakah memang saya harus me"reset" pemikiran saya terhadap sikap saya. Mungkin untuk membuat tetap "allert" terhadap kondisi kondisi yang akan datang saya harus mulai menemukan motivasi baru dalam bekerja. Dan itu berarti apakah saya harus mulai melirik tempat kerja baru yang tentu saja baru juga dalam hal tantangan tantangan yang akan ada??? Tapi jujur saja untuk melirik tempat baru saya punya banyak pertimbangan. Anak itu nomor satu, jarak antara tempat kerja dan rumah juga menjadi prioritas. Saya hanya ingin agar tetap bisa termotivasi bekerja tanpa harus berpindah lokasi kerja. Dengan tetap memiliki motivasi, tentu saya tetap bisa "stay allert". Hanya saja bagaimana cara kita tetap memotivasi diri bila kita berada dalam "comfort zone"???
Bagaimana menurut anda teman, saat anda berada diposisi saya???
. 





(fyuhh lega setelah penantian panjang)
